Senin, 13 Juli 2015
Rabu, 18 Maret 2015
Biologi Sistem Gerak Pada Manusia SMA KELAS XI
TUGAS BIOLOGI
MATERI : SISTEM GERAK PADA
MANUSIA

Di
Susun Oleh :
Nama
: Muh. Adha
Kelas
: XI IPA 4
SMA NEGERI 1 DOMPU
TAHUN AJARAN 2014-2015
SISTEM
GERAK PADA MANUSIA
·
Gerak
Salah satu ciri
dari makhluk hidup adalah bergerak. Secara umum gerak dapat diartikan berpindah
tempat atau perubahan posisi sebagian atau seluruh bagian dari tubuh makhluk
hidup. Makhluk hidup akan bergerak bila aka impuls atau rangsangan yang
mengenai sebagian atau seluruh bagian tubuhnya. Pada hewan dan
manusia dapat mewakili pengertian gerak secara umum dan dapat dilihat dengan
kasat mata/secara nyata. Gerak pada manusia dan hewan menggunakan alat gerak
yang tersusun dalam sistem gerak.
Sedangkan untuk
tumbuhan, gerak yang dilakukan tidak akan terlihat oleh kasat mata karena
terjadi di dalam suatu organ atau sel tumbuhan. Dengan demikian tidak dapat
disamakan arti gerak pada seluruh makhluk hidup. Gerak pada tumbuhan juga
melibatkan alat gerak, tetapi alat gerak yang digunakan tergantung dari impuls
atau rangsangan yang mengenai sel/jaringan/organ tumbuhan tersebut. Pembahasan
gerak pada tumbuhan akan lebih rinci pada bab selanjutnya di semester yang akan
datang.
Manusia memiliki kemampuan untuk
bergerak dan melakukan aktivitas, seperti berjalan, berlari, menari dan
lain-lain. Bagaimana manusia dapat melalakukan gerakan ? Kemampuan melakukan
gerakan tubuh pada manusia didukung adanya sistem gerak, yang merupakan hasil
kerja sama yang serasi antar organ sistem gerak, seperti rangka (tulang),
persendian, dan otot.
·
Alat gerak
Alat-alat gerak yang digunakan pada manusia dan hewan ada 2 macam
yaitu alat gerak pasif berupa tulang dan alat gerak aktif berupa otot. Kedua
alat gerak ini akan bekerja sama dalam melakukan pergerakan sehingga membentuk
suatu sistem yang disebut sistem gerak.
Tulang disebut alat gerak pasif karena tulang tidak dapat
melakukan pergerakkannya sendiri. Tanpa adanya alat gerak aktif yang menempel
pada tulang, maka tulang-tulang pada manusia dan hewan akan diam dan tidak
dapat membentuk alat pergerakan yang sesungguhnya. Walaupun merupakan alat
gerak pasif tetapi tulang mempunyai peranan yang besar dalam sistem gerak
manusia dan hewan.
Otot disebut alat gerak aktif karena otot memiliki senyawa kimia
yaitu protein aktin dan myosin yang bergabung menjadi satu membentuk
aktomiosin. Dengan aktomiosin inilah otot dapat bergerak. Sehingga pada saat
otot menempel pada tulang dan bergerak dengan otomatis tulang juga akan
bergerak.
Dengan memiliki aktomiosin ini maka otot mempunyai sifat yang
lentur/fleksibel dan mempunyai kemampuan untuk memendekkan serabut ototnya
(pada saat kontraksi) dan memanjangkan serabut ototnya (pada saat
relaksasi/kembali pada posisi semula)
Alat gerak ada 2 yaitu alat gerak pasif dan alat gerak
aktif. Alat gerak pasif yaitu rangka sedangka alat gerak aktif yaitu otot.
1. Rangka
Di dalam
tubuh, rangka tersasun oleh banyak tulang dengan berbagai bentuk dan ukuran
(Gambar 1). Adanya rangka, menjadikan otot-otot rangka dapat melekat, sel-sel
darah merah terbentuk (hemopoesis) dan limfosit B.Selain itu, rangka menjadi
tempat penyimpanan kalsium terutama fosfat, sehingga sewaktu diperlukan dapat
dilepaskan dari darah. Fungsi rangka bagi tubuh adalah sebagai alat gerak pasif.
1. Scapula
2. Sternum
3. Iga
4. Vertebrae
5. Ilium
6. Iskum
7. Pubis
8. Tengkorak
9. Kalvikula
10. Humeris
11. Radius
12. Ulna
13. Karpal
14. Metacarpal
15. Falangeus
16. Femur
17. Patela
18. Tibia
19. Fibula
20. Tarsal
21. Metatarsal
Rangka atau tulang pada tubuh manusia
termasuk salah satu alat gerak pasif karena tulang baru akan bergerak bila
digerakkan oleh otot. Sedangkan unsur pembentuk tulang pada manusia adalah
unsur kalsium dalam bentuk garam yang direkatkan oleh kalogen. Dalam
perkembangannya bentuk tulang dan rangka tubuh yang disusun nya dapat mengalami
kelainan yang disebabkan oleh gangguan yang dibawa sejak lahir, infeksi
penyakit, faktor gizi atau posisi tubuh yang salah. Hubungan antar tulang yang
satu dengan tulang yang lainnya, dihubung- kan oleh persendian (sendi). Pada
manusia terdapat tiga (3) bentuk persendian, yaitu sendi mati, sendi kaku dan
sendi gerak
v Macam-macam
rangka
Secara umum,
rangka tubuh manusia dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu rangka/skeleton
aksial dan rangka/skeleton apendikuler.
1.
Rangka aksial (rangka sumbu)
Rangka aksial
merupakan jenis rangka yang tidak langsung terkait dengan sistem gerak. Karena
itu, tugasnya adalah melindungi organ-organ yang berada dalam tubuh, misalnya
otak, jantung, paru-paru, dan organ dalam lainnya. Rangka aksial manusia
terdiri atas tengkorak, tulang dada, dan tulang rusuk.
a)
Tengkorak
Tengkorak sebagian besar tersusun atas tulang-tulang yang pipih.
Tulang-tulang tersebut bersambungan sedemikian rupa hingga membentuk rongga. Di
dalam rongga itulah tersimpan otak dan beberapa organ wajah, misalnya mata dan
gigi. Tulang tengkorak dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu tulang-tulang
bagian kepala dan tulang-tulang bagian muka.

·
Tulang kepala
Tulang-tulang kepala meliputi
tulang dahi, tulang kepala belakang, tulang baji, tulang tapis, dan tulang
pelipis.
·
Tulang muka
Tulang bagian muka terdiri
dari tulang rahang bawah, tulang pipi, tulang langit-langit, tulang hidung,
tulang air mata, dan tulang lidah. Tulang-tulang muka bersatu dan tidak dapat
digerakkan, kecuali tulang rahang bawah. Tulang rahang bawah dapat digerakkan
untuk berbicara dan mengunyah makanan.
b)
Tulang belakang (vertebrae)
Tulang belakang berfungsi menopang berdiri tegaknya tubuh, menyangga tengkorak
dantempat melekatnya tulang rusuk. Tulang
belakang terdiri dari 7 ruas tulang leher, 12 ruas tulang punggung, 5 ruas
tulang pinggang, serta tulang kelengkang (sakrum) dan tulang ekor. Pada orang
dewasa, tulang kelangkang tunggal merupkan gabunga (fusi) 5 ruas tulang
belakang. Demikian juga, tulang ekor merupakan tulang tunggal hasil fusi 4
tulang belakang.

c)
Tulang dada
Tulang
dada (sternum) berbentuk seperti pisau belati. Tulang dada terdiri dari
tiga bagian, yaitu hulu (manubrium), badan dan taju pedang (simploid
processus). Manubrium bersambung dengan klavicula dan tulang rusuk
pertama. Bagian badan merupakan tempat melekatnya 9 tulang rusuk berikutnya (Gambar. 4).
d)
Tulang rusuk
Tulang rusuk berbentuk tipis, pipih dan melengkung.
Bersama-samadengan tulang dada membentuk rongga dada untuk melindungi
jantungdan paru-paru. Tulang rusuk dibedakan atas tiga bagian (Gambar 4) yaitu
:
Ø
Tulang rusuk sejati berjumlah tujuh pasang.
Tulang-tulang rusuk inipada bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas
tulangbelakang sedangkan ujung depannya berhubungan dengan tulangdada dengan
perantaraan tulang rawan
Ø Tulang rusuk
palsu berjumlah 3 pasang. Tulang rusuk ini memilikiukuran lebih pendek
dibandingkan tulang rusuk sejati. Pada bagianbelakang berhubungan dengan
ruas-ruas tulang belakang sedangkanketiga ujung tulang bagian depan disatukan
oleh tulang rawan yangmelekatkannya pada satu titik di tulang dada.
Ø
Rusuk melayang berjumlah 2 pasang. Tulang rusuk ini
pada ujungbelakang berhubungan dengan ruas-ruas tulang belakang, sedangkanujung
depannya bebas.

2.
Rangka apendikuler (rangka anggota badan)
Rangka apendikuler terkait langsung dengan sistem gerak. Rangka apendikuler
tersusun atas tulang anggota gerak atas dan tulang anggota gerak bawah.
a)
Anggota gerak atas
Tulang anggota
gerak atas manusia terdiri atas tulang bahu (pectoralis), tulang lengan atas
(humerus), dan tulang lengan bawah. Tulang bahu ada pada bagian kanan dan kiri
tubuh, tersusun atas tulang selangka (clavicula) dan tulang belikat (scapula)
(Gambar. 5)

b)
Anggota gerak bawah
anggota gerak bawah tersusun atas tulang pelvis (pinggul) dan
tulang-tulang kaki. Tulang pinggul tersusun atas tulang duduk ((iscium), tulang
usus (illium) dan tulang kemaluan (pubis). Pada tulang pnggul terdapat lekukan
yang disebut asetabulum (tempat melekatnya tulang paha).
tulang kaki
tersusun atas tulang paha (femur), tulang
tempurung lutut (patella), tulang betis (fibula), tulang kering (tibia), tulang
pangkal kaki (tarsal), tulang telapak kaki (metatarsus), dan tulang jari kaki
(falang)


v Tulang penyusun rangka
Tulang orang
dewasa mempunyai 206 tulang sedangkan bayi memiliki lebih dari 340 tulang.
Penyebabnya adalah saat tubuh bagi tumbuh, beberapa tulang yang terpisah
menyatu membentuk satu tulang. Tulang-tulang tersebut merupakan jaringan ikat
yang tersusun dari matriks tulang. Matriks ini mengandung garam-garam organik
yang mengalami mineralisasi. Komponen tulang terdiri atas air sebanyak 25%, zat
organik berupa serabut sebanyak 30%, dan 45% meliputi zat mineral kalsium
fosfat dan garam magnesium. Saat terjadi infeksi atau cidera, tulang akan
segera mengalami pemulihan. Ini terjadi karena tulang memiliki daya regenerasi
(pemulihan diri) yang sangat besar.
1.
Bentuk tulang
Berdasarkan
bentuknya, tulang dibedakan menjadi empat jenis meliputi tulang pipa, tulang
pipih, tulang pendek, dan tulang tak beraturan
-
Tulang pipa (tulang panjang)

Disebut tulang pipa karena tulang tersebut
berbentuk seperti pipa dengan kedua ujungnya yang bulat.Ujung tulangnya yang
berbentuk bulat dan tersusun atas tulang rawan disebut epifise. Sedangkan
bagian tengah tulang pipa yang berbentuk silindris dan berongga disebut
diafise. Di antara epifise dan diafise terdapat bagian yang disebut metafise
(Gambar. 8). Metafise tersusun atas tulang rawan. Bagian metafise ini terdapat
cakra epifise, yang memiliki kemampuan memanjang.
Di dalam rongga tulang pipa, terdapat
bagian yang disebut sumsum tulang.Sumsum tulang tersusun dari pembuluh darah dan
pembuluh saraf. Tulang pipa memiliki dua sumsum tulang yakni sumsum tulang
merah dan kuning. Tempat sel-sel darah dibentuk berada di dalam sumsum tulang
merah. Adapun tempat pembentukan sel-sel lemak terdapat pada sumsum tulang
kuning.Saat kita masih bayi,hampir seluruh tulang mengan dung sumsum merah.
Namun, saat mulai tumbuh, beberapa di antaranya berubah menjadi sumsum tulang
kuning.

Selain sumsum, pada tulang pipa juga
terdapat bagian lainnya, misalnya bagian luar yang keras disebut cangkang.
Kemudian tulang pipa juga memiliki lapisan periostumyang menyelimuti seluruh
tulang. Bagian tubuh yang memiliki tulang pipa meliputi tulang paha, tulang
hasta, tulang lengan atas, tulang pengumpil, tulang betis, dan tulang kering.
-
Tulang pipih
Tulang pipih bentuknya pipih terdiri atas
lempengan tulang kompak dan tulang spons. Di dalam tulang pipih terisi sumsum
merah. Contoh tulah pipih adalah tulang rusuk, tulang dada, tulang belikat,
tulang panggul, dan tulang dahi.

-
Tulang pendek
Tulang pendek
memiliki bentuk mirip kubus, pendek tak beraturan, atau bulat. Adanya tulang
ini dimungkinkan goncangan yang keras dapat diredam dan gerakan tulang yang
bebas dapat dilakukan. Sebagai contoh, tulang telapak kakidan telapak tangan.

-
Tulang tak beraturan
Dari namanya saja kita
tentu tahu, bila tulang ini memiliki bentuk tidak beraturan. Contohnya dapat
kita temukanpada tulang rahang dan ruas tulang belakang.

2.
Jenis Tulang
Menurut zat penyusunnya, tulang dapat dibedakan menjadi tulang rawan
(kartilago) dan tulang keras (osteon). Secara fisik, kedua tulang ini memiliki
ciri yang berbeda. Tulang rawan bersifat lentur dan warnanya terang, sementara
tulang keras atau tulang sejati tidak lentur dan warnanya lebih keruh.
a) Tulang rawan
(kartilago)
Tulang rawan tersusun dari sel-sel tulang rawan yang disebut kondrosit,
yang menghasilkan matriks berupa kondrin.
Cartilago berfungsi untuk
melindungi bagian ujung epifise tulang. Terutama dalam proses
osifikasi/penulangan. Cartilago banyak banyak dijumpai pada masa bayi terutama
pada saat proses perkembangan embrio menjadi fetus. Pembentukan rangka fetus di
dominasi oleh cartilago. Seiring dengan perkembangan fetus menjadi bayi dan
memasuki usia pertumbuhan serta dewasa, maka cartilage ini akan mengalami
peristiwa osifikasi. Tetapi tidak semua cartilago dalam tubuh, masih ada
beberapa yang tetap menjadi cartilago. Seperti dijumpai pada
trachea/tenggorokan, daun telinga, hidung bagian ujung, ruas-ruas persendian
tulang.
Cartilago tersusun atas matriks condrin yaitu
berupa cairan kental yang banyak mengandung zat perekat kolagen yang tersusun
atas protein dan sedikit zat kapur/Carbonat. Dengan adanya condrin ini
dapat memberikan sifat lentur pada cartilago. Pada anak-anak cartilage lebih
banyak mengandung sel pembentuk tulang rawan dari pada matriks, sedangkan pada
orang dewasa berkebalikan.
Cartilago dibentuk oleh zat pembentuk tulang
rawan yang disebut dengan Condrosit. Tulang rawan berawal dari selaput tulang
rawan yang disebut pericondrium. Pericondrium berfungsi untuk memberikan
kebutuhan nutrisi bagi cartilage karena banyak mengandung pembuluh darah. Dalam
pericondrium banyak mengandung condroblast yaitu sel pembentuk condrosit.
Ada 3 tipe tulang rawan yaitu:
1. Tulang rawan hialin
Tulang rawan hialin merupakan tipe tulang rawan yang paling banyak terdapat
di tubuh manusia. Matriksnya transparan jika dilihat dengan mikroskop. Tulang
rawan hialin merupakan penyusun rangka embrio, yang kemudian akan berkembang
menjadi tulang keras. Pada individu dewasa, tulang rawan hialin terdapat pada
sendi gerak sebagai pelicin permukaan tulang dan sendi, tulang ujung rusuk,
hidung, laring, trakea, dan bronkus.
2. Tulang rawan serat
Tulang rawan serat mempunyai matriks berisi berkas serabut kalogen. Karena
kandungan matriksnya, tulang rawan serat bersifat kuat dan kaku, serta dapat
menahan guncangan. Tulang rawan serat terdapat antar ruas tulang belakang dan
cakram sendi lutut.
3. Tulang rawan elastik
Tulang rawan elastik mengandung serabut
elastik. Tulang rawan ini terdapat pada daun telinga dan epiglotis. Pada masa
pertumbuhan, terutama pada saat bayi, tulang-tulang manusia masih berupa tulang
rawan. Dibeberapa bagian, misalnya di
tulang ubun-ubun, hubungan antartulang masih belum menutup. Semakin lama, ruas
antarselnya berisi zat kapur sehingga semakin bertambah keras. Namun, pada
bagian tertentu, tulang itu tetap sebagai tulang rawan. Misalnya pada daun
telinga, cuping hidung, sendi, dan antar ruas tulang belakang. Oleh karena
tulang rawan tidak memiliki pembuluh darah dan kondrosit kehilangan kemampuan
untuk membelah, tulang rawan sulit pulih jika terluka.
b)
Tulang sejati (tulang keras atau osteon)
Rangka tubuh manusia
terbentuk lengkap setelah embrio berusia duabulan di dalam kandungan dan masih
berbentuk tulang rawan. Karena prosespengapuran, lama-kelamaan terbentuklah
tulang keras. Penulangan (osifikasi)yang diawali dengan bentuk tulang rawan
disebut penulangan endokondral.Tidak semua rangka tubuh terbentuk dengan cara
ini. Sebagian besar tulangtengkorak, tulang-tulang pipih, dan tulang-tulang
pendek terbentuk denganpenulangan intramembran. Pada proses penulangan
intramembran sel-selmesenkim dari jaringan embrional memperbanyak diri,
selanjutnya sel-selanak menggelembung menjadi osteoblas (sel tulang muda).
Osteoblasmenggetahkan matriks tulang yang menyelubungi osteoblas
sendiri.Kemudian terjadi invasi pembuluh darah lalu pengendapan garam
kapurmenyebabkan matriks tulang mengeras. Osteoblas sekarang disebut
osteosit(sel tulang tua).
Berdasarkan
strukturnya tulang sejati dibagi menjadi:
-
Tulang spons; lamela tulang tidak tersusun konsentris,
banyak mengandung rongga yang diisi sumsum merah yang memproduksi sel-sel darah
sebagai organ kemopoitik. Tulang spons banyak terdapat pada epifisis tulang
panjang, tulang pendek atau pipih, dan tulang vertebra.
-
Tulang kompak; lamela tulang tersusun konsentris
mengelilingi saluran havers, tidak terdapat rongga-rongga, melapisi tulang
spons atau tulang pipa. Tulang kompak terdiri atas sistem-sistem havers, yaitu
sistem yang dibangun oleh saluran havers yang berisi pembuluh darah dan saraf
yang dikelilingi oleh lamela-lamela dan lakuna-lakuna yang berisi osteosit.
Di sekitar saluran
havers terdapat lamela-lamela yang konsentris danberlapis. Lamela ialah
jaringan interseluler. Pada lamela terdapat lakuna yangberisi osteosit (sel
tulang). Dari lakuna keluar saluran-saluran kecil yangdisebut kanalikuli yang
menghubungkan lakuna satu dengan yang lainnya.Kanalikuli berperan baik dalam
pemberian nutrisi pada osteosit karena tidak terdapat darah maupun difusi.
Berdasarkan
bentuknya, tulang dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
1.
Tulang pipa, misalnya tulang paha, tulang betis, tulang kering, tulang
pengumpil, dan tulang hasta;
2.
Tulang pipih, misalnya tulang usus, tulang rusuk, tulang belikat, dan
tulang tengkorak;
3.
Tulang pendek, misalnya tulang tangan, tulang pangkal kaki, dan ruasruas
tulang belakang.
3.
Osifikasi
(Pembentukan tulang)
Pembentukan tulang rawan
terjadi segera setelah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh
darah menembus perichondrium di bagian tengah batang tulang rawan, merangsang
sel-sel perichondrium berubah menjadi osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk
suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium berubah menjadi periosteum.
Bersamaan dengan proses ini pada bagian dalam tulang rawan di daerah diafisis
yang disebut juga pusat osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar
kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) akibatnya zat kapur
didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan
dan menyebabkan kematian pada sel-sel tulang rawan ini.
Kemudian akan terjadi
degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat
interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke
daerah ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang.
Pada tahap selanjutnya
pembuluh darah akan memasuki daerah epiphise sehingga terjadi pusat osifikasi
sekunder, terbentuklah tulang spongiosa (Gambar 11). Dengan demikian masih
tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam
pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang
disebut dengan cakram epifise.
Selama pertumbuhan, sel-sel
tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan
tulang rawan diganti dengan tulang di daerah diafise, dengan demikian tebal
cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan
diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh
osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada saat yang bersamaan
osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang baru di daerah
permukaan.
Massa tulang
dipertahankan untuk mencegah penurunan massa tulang, dimana penurunan massa
tulang ini akan mengakibatkan berkurangnya kepadatan tulang, dan tulang akan
mengalami osteoporosis.
Proses terbentuknya tulang terjadi dengan 2 cara yaitu melalui osifikasi
intramembran dan osifikasi endokondral.
a)
Osifikasi intra membran
Proses pembentukan tulang dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang,
contohnya pada proses pembentukan tulang pipih. Mesenkim merupakan bagian dari
lapisan mesoderm, yang kemudian berkembang menjadi jaringan ikat dan darah.
Tulang tengkorak berasal langsung dari sel-sel mesenkim melalui proses
osifikasi intrammebran.
b)
Osifikasi endokondral
Proses pembentukan tulang yang terjadi dimana sel-sel mesenkim
berdiferensiasi lebih dulu menjadi kartilago (jaringan rawan) lalu berubah
menjadi jaringan tulang, misal proses pembentukan tulang panjang, ruas tulang
belakang, dan pelvis. Proses osifikasi ini bertanggungjawab pada pembentukan
sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang (osteoblas) aktif
membelah dan muncul di bagian tengah dari tulang rawan yang disbeut center
osifikasi. Osteoblas selanjutnya berubah menjadi osteosit, sel-sel tulang
dewasa ini tertanam dengan kuat pada mtariks tulang.
Fungsi tulang dalam sistem rangka manusia meliputi:
1)
Sebagai alat gerak pasif
2)
Menegakkan badan, misalnya tulang-tulang punggung
3)
Memberi bentuk badan, misalnya tulang-tulang
punggung
4)
Melindungi bagian-bagian tubuh yang penting,
misalnya jantung
5)
Tempat melekatnya otot-otot
6)
Tempat pembuatan sel darah merah dan sel darah putih
4.
Hubungan
Antartulang (Persendian)
Hubungan antar tulang yang satu dengan yang lain disebut artikulasi atau
sendi. Berdasarkan sifat geraknya, artikulasi dapat dibedakan atas sinartrosis
(sendi mati) anfiartrosis (sendi kaku), dan diastrosis (sendi gerak).
a) Sinartrosis
Sinartrosis
adalah hubungan antara kedua ujung tulang yang direkatkan oleh suatu jaringan
ikat, yang kemudian mengalami osifikasi (penulangan), sehingga tidak
memungkinkan adanya gerakan. Sebagai contoh adalah hubungan antara tulang-tulang
tengkorak.

Ada dua jenis
sinartrosis, yaitu sikondrosis dan sutura. Sinkondrosis adalah hubungan antar
tulang yang dihubungkan oleh kartilago hialin. Sutura adalah hubungan
antartulang yang dihubungkan oleh jaringan ikat serabut padat.
b) Amfiartrosis
Anfiartrosis
adalah bentuk hubungan antara kedua ujung tulang yang dihubungkan oleh jaringan
kartilago (tulang rawan), sehingga memungkinkan tetap adanya sedikit gerakan.
Amfiartrosis dibagi menjadi dua yaitu sindesmosis dan simfisis. Pada
sindesmosis, sendi di hubungkan oleh jaringan ikat, serabut, dan ligamen,
contohnya sendi antara tulang betis dan tulang kering. Pada simfisis, sendi
dihubungkan oleh kartilago (tulang rawan) serabut yang pipih seperti cakram.
Sebagai contohnya adalah hubungan antara ruas-ruas tulang belakang. Adanya
sedikit gerakan antara kedua tulang tersebut memungkinkan kita mengatur volume
rongga dada, sehingga terjadi proses pernapasan, yaitu inspirasi dan ekspirasi.

c) Diartrosis
Diartrosis
adalah hubungan antara tulang yang satu dengan yang lain yang tidak dihubungkan
oleh jaringan sehingga memungkinkan terjadinya gerakan tulang secara lebih
bebas. Diartrosis disebut sebagai persendian. Terjadinya gerakan yang bebas
pada persendian dimungkinkan oleh adanya suatu susunan atau struktur khusus
yang dibangun oleh ligamen, kapsul, cairan sinovial, membran sinovial, dan
tulang rawan hialin.
-
Ligamen, merupakan suatu jaringan yang berfungsi
seperti karet gelang yang kuat guna mengikat kedua ujung tulang. Ligamen
mencegah terkilirnya (dislikasi) kaki atau lengan pada bagian pergelangan,
namun tetap menjaga adanya pergerakan tulang.
-
Kapsul, merupakan lapisan serabut yang menyelimuti
sendi dan membentuk suatu rongga sendi.
-
Membran sinovial, merupakan selaput yang membatasi permukaan
kapsul dan dapat mensekresikan cairan sinovial. Cairan sinovial berfungsi
sebagai cairan pelumas bagi ujung-ujung tulang.
-
Tulang rawan hialin, adalah jaringan tulang rawan yang
menutup kedua ujung tulang. Hal ini penting untuk menjaga benturan antara dua
ujung tulang yang keras, sehingga menjadi lebih bebas dan aman untuk bergerak.
Hubungan antartulang yang bersifat diartrosis, adalah
sebagai berikut:
Ø Sendi peluru
Sendi ini disebut sendi peluru karena dari hubungan
dua tulang tersebut dapat terjadi gerakan ke segala arah. Hal ini disebabkan
bagian bongkol sendi yang bentuknya seperti bola atau peluru masuk ke dalam
cawan sendi dari tulang lain. Misalnya hubungan antara tulang gelang bahu
dengan tulang lengan atas, dan hubungan antara gelang panggul dengan tulang
paha.

Ø Sendi engsel
Sendi ini
disebut sendi engsel karena arah gerakannya hanya satu arah, seperti engsel
pintu. Hal ini terjadi karena hubungan antara bongkol tulang yang masuk ke
dalam mangkuk tulang yang tidak berlaku dalam, dan juga adanya bagian
pengganjal. Misalnya hubungan tulang atau sendi pada siku dan pada lutut.

Ø Sendi pelana
Sendi ini disebut
sebagai sendi pelana karena dari hubungan dua tulang tersebut, tulang yang satu
dapat bergerak kedua arah seperti orang yang naik kuda di atas pelana.
Contohnya hubungan antara pergelangan tangan dan tulang ibu jari.

Ø Sendi putar
Sendi ini disebut sendi putar karena dari hubungan dua
tulang tersebut, tulang yang satu dapat berputar mengitari tulang yang lain.
Misalnya hubungan antara tulang atlas dan tulang pemutar (tulang aksis)
sehingga kepala kita dapat bergerak berputar, dan juga hubungan antara tulang
hasta dan pengupil.
Fungsi Sendi
1. Sebagai penghubung antara tulang yang satu dengan tulang yang lainnya
2. Memungkinkan terjadinya pergerakan antar tulang, misalnya kepala, jari-jari
tangan, kaki, lutut dan lain-lain.
2. Otot
Semua sel-sel otot mempunyai
kekhususan yaitu untuk berkontraksi. Terdapat lebih dari 600 buah otot pada
tubuh manusia. Sebagian besar otot-otot tersebut dilekatkan pada tulang-tulang
kerangka tubuh oleh tendon, dan sebagian kecil ada yang melekat di bawah
permukaan kulit.
Fungsi sistem muskuler/otot, yaitu:
Ø Pergerakan.
Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat dan bergerak
dalam bagian organ internal tubuh.
Ø Penopang
tubuh dan mempertahankan postur.Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh
saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gravitasi.
Ø Produksi
panas. Kontraksi otot-otot secara metabolis menghasilkan panas untuk
mepertahankan suhu tubuh normal.
Ciri-ciri sistem
muskuler/otot:
Ø Kontraksibilitas.
Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau tidak melibatkan
pemendekan otot.
Ø Ekstensibilitas.
Serabut otot memiliki kemampuan untuk menegang melebihi panjang otot saat
rileks.
Ø Elastisitas.
Serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah berkontraksi atau meregang.
Jenis-jenis otot, yaitu:
·
Otot rangka,
merupakan otot lurik, volunter, dan melekat pada
rangka,
dengan ciri-ciri yaitu:
-
Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm,
berbentuk silindris denganlebar berkisar antara 10 mikron sampai 100 mikron.
-
Setiap serabut memiliki banyak inti yang tersusun
di bagian perifer.
-
Kontraksinya sangat cepat dan kuat.
Struktur Mikroskopis Otot
Skelet/Rangka,yaitu:
-
Otot skelet disusun oleh
bundel-bundel paralel yang terdiri dari serabut-serabut berbentuk silinder yang
panjang, disebut myofiber /serabut otot.
-
Setiap serabut otot
sesungguhnya adalah sebuah sel yang mempunyai banyak nukleus ditepinya.
-
Cytoplasma dari sel otot
disebut sarcoplasma yang penuh dengan bermacam-macam organella, kebanyakan
berbentuk silinder yang panjang disebut dengan myofibril.
-
Myofibril disusun oleh
myofilament-myofilament yang berbeda-beda ukurannya yakni yang kasar terdiri
dari protein myosin dan yang halus terdiri
dari protein aktin/actin.
Berdasarkan cara melekatnya
pada tulang tendon dibagi 2, yaitu:
a. Origo merupakan tendon yang melekat pada tulang yang tidak berubah kedudukannya
ketika berkontraksi.
b.
Insersio¸ merupakan tendon yang melekat pada tulangyang
bergerak ketika otot berkontraksi.

Otot yang dilatih terus menerus akan membesar atau mengalami hipertrofi,
contoh pada binaragawan. Sebaliknya kalau otot tidak digunakan otot akan
mengalami kisut atau mengalami iatrofi.
·
Otot Polos
merupakan otot tidak berlurik dan involunter. Jenis
otot ini dapat ditemukan pada dinding berongga seperti kandung kemih dan uterus,
serta pada dinding tuba folopi, seperti pada sistem respiratorik, pencernaan,
reproduksi, urinaria, dan sistem sirkulasi darah dengan ciri-ciri sebagai
berikut:
1) Serabut otot berbentuk
spindel dengan nukleus sentral.
2) Serabut ini berukuran kecil,
berkisar antara 20 mikron (melapisi pembuluh darah) sampai 0,5 mm pada uterus
wanita hamil.
3) Kontraksinya kuat dan
lamban.
Struktur Mikroskopis Otot
Polos
Otot
polos tersusun dari sel-sel yang membentuk kumparan halus. Masing-masing sel
memiliki inti yang terletak ditengah. Kontraksi otot polos tidak melalui
kehendak. Sel otot polos berbentuk memanjang. Kedua ujungnya lancip dengan inti
tunggal dan serat miofibril yang homogen sehingga tidak menggambarkan adanya
serat lurik. Bentuk otot polos tersebut sangat berbeda dengan otot lurik dan
otot jantung. Otot polos dijumpai pada dinding saluran pencernaan makanan,
paru-paru, dinding pembuluh darah pembuluh limfa serta ovarium. Otot polos
memiliki sifat lambat bereaksi terhadap rangsangan tetapi tahan lelah, dan
bekerja dipengaruhi saraf tidak sadar.
·
Otot Jantung
Struktur otot jantung menyerupai otot lurik, tetapi letak inti selnya di
tengah. Selain itu, betuk selnya bercabang. Pada setiap percabangan, terdapat
jaringan pengikat yang dinamakan diskus interkalaris. Otot jantung memiliki
ciri-ciri cepat beraksi terhadap rangsangan, tahan lelah dan dipengaruhi
oleh susunan saraf tidak sadar. Susunana saraf ini adalah saraf kembar (nervus
vagus) yang bersifat parasimpatis. Sel-sel jantung mendapat makanan dari arteri
koronaria. Selama manusia masih hidup, jantung terus menerus berkontraksi dan
jumlah kontraksi setiap menit adalah 72 kali. Kontraksi jantung akan
meningkat dengan rangsangan hormon adrenalin.
Sifat kerja otot
Sifat kerja otot dibedakan atas:
1. Antagonis
Antagonis adalah kerja otot yang kontraksinya
menimbulkan efek gerak berlawanan, contohnya adalah :
1. Ekstensor(meluruskan) dan fleksor (membengkokkan), misalnya otot trisep dan otot
bisep.
2.
Abduktor (menjauhi badan) dan adductor (mendekati badan)
misalnya gerak tangan sejajar bahu dan sikap sempurna.
3.
Depresor (ke bawah) dan adduktor (ke atas), misalnya
gerak kepala merunduk dan menengadah.
4.
Supinator (menengadah) dan pronator (menelungkup),
misalnya gerak telapak tangan menengadah dan gerak telapak tangan
menelungkup.
2. Sinergis
Sinergis adalah otot-otot yang kontraksinya
menimbulkan gerak searah. Contohnya pronator teres dan pronator kuadratus.
Mekanisme kerja otot
Kontaksi terjadi berdasarkan
dua filamen di dalam sel otot kontraktil yang berupa filament aktin dan
filament miosin. Rangsangan yang ditrima oleh asetilkolin menyebabkan
aktomiosin mengerut (kontraksi). Kontraksi ini memerlukan energi. Pada waktu
kontraksi, filamen aktin meluncur diantara miosin kedalam zona H (zona H adalah
bagian terang diantara dua pita gelap). Dengan demikian serabut otot memendek,
yang tetap panjangnya ialah pita A (pita gelap) sedangkan pita I (pita terang)
dan zona H bertambah pendek waktu kontraksi.
Ujung miosin dapat mengikat
ATP dan menghidrolisisnya menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara
memotong pemindahan ATP kemiosin yang berubah bentuk ke konfigurasi energi yang
tinggi. Miosin yang berenergi tinggi ini kemudian mengikat diri dengan
kedudukan khusus membentuk jembatan silang. Kemudian simpanan energi miosin
dilepaskan, dan ujung miosin lalu beristirahat dengan energi rendah. Pada saat inilah terjadi relaksasi (Gambar 22). Relaksasi ini mengubah sudut perlekatan ujung
miosin menjadi miosin ekor. Ikatan antara miosin rendah dan aktin
terpecah ketika molekul gabung ATP bergabung dengan ujung miosin, kemudian
siklus tadi berulang
Sumber energi untuk
gerak otot
Energi awal yang diperlukan untuk kontraksi berasal dari ATP yangtersedia
di otot.
Akan tetapi, ATP yang tersedia hanya cukup untuk kegiatan otot selama5
detik. Dalam otot selain ATP tersedia pula kreatin fosfat yang berenergiyang
dimanfaatkan pada waktu kontraksi otot. Selanjutnya kreatinmelepaskan
energinya.
Energi yang berasal dari ATP dan kreatin fosfat di
dalam otot dapatdimanfaatkan untuk kegiatan otot selama 15 detik. Jika
aktivitas ototberlanjut dan persediaan kreatin P habis, energi diperoleh dari
penguraianglukogen yang ada di otot. Selain dari penguraian glukogen,
glukosadarah juga dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk kontraksi otot
Jika
energi untuk kegiatan otot secara aerob tidak mencukupi, prosesglukolisis
dipercepat dan terjadi pembentukan asam laktat.
Asam laktat yang terbentuk dalam otot akan diuraikan
menjadi karbondioksida dan air. Setelah kegiatan otot berlangsung (selesai),
penguraianasam laktat memerlukan oksigen.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa energi kontraksi ototdiperoleh
dari:
-
Sistem fosfagen, yaitu diperoleh dari persediaan
kreatin fosfat dan ATP, cukup untuk kegiatan otot selama 15 detik, misalnya,
lari 100 m.
-
Sistem glikogen, asam laktat yang menyuplai ATP cukup
untuk kegiatan otot selama 30 - 40 detik, misalnya, lari 400 m.
-
Sistem aerobik. Energi yang dihasilkan semuanya
diperoleh darirespirasi aerob, misalnya joging.
Kelainan Pada otot
Tetanus kelainan otot yang tegang terus menerus
yang disebabkan oleh racun bakteri.
• Atrofi otot kelainan yang menyebabkan otot
mengecil akibat serangan virus polio atau karena otot tidak difungsikan
lagi untuk bergerak, akibat lumpuh.
• Kaku leher (stiff) Kelainan yang terjadi
karena gerak hentakan yang menyebabkan otot Trapesius meradang.
• Kram kelainan otot yang terjadi karena
aktivitas otot yang terus menerus sehingga otot menjadi kejang.
• Keseleo (terkilir) kelainan otot yang terjadi
jika gerak sinergis salah satu otot
CATATAN :
UNTUK PENAMAAN TULANG DALAM BAHASA LATIN LIHAT RINGKASAN SISTEM GERAK
MATERI 3.2 (PROGRAM EXCEL).
Persendian/artikulasi Mrupakan
hubungan antara 2 buah tulang. Struktur khusus yang terdapat pada artikulasi
yang dapat memungkinkanuntuk pergerakan disebut dengan sendi.
Artikulasi dapat dibedakkan menjadi :
1)
SINARTHROSIS
Disebut juga dengan sendi mati.
Yaitu hubungan antara 2 tulang yang tidak dapat digerakkan sama sekali.
Artikulasi ini tidak memiliki celah sendi dan dihubungkan dengan jaringan
serabut. Dijumpai pada hubungan tulang pada tulang-tulang tengkorak yang
disebut sutura/suture.
2)
AMFIARTHROSIS
Disebut juga dengan sendi kaku.
Yaitu hubungan antara 2 tulang yang dapat digerakkan secara terbatas.
Artikulasi ini dihubungkan dengan cartilago. Dijumpai pada hubungan
ruas-ruas tulang belakang, tulang rusuk dengan tulang belakang.
3) DIARTHROSI
Disebut juga dengan sendi hidup.
Yaitu hubungan antara 2 tulang yang dapat digerakkan secara
leluasa atau tidak terbatas. Untuk melindungi bagian ujung-ujung tulang sendi,
di daerah persendian terdapat rongga yang berisi minyak sendi/cairan synovial
yang berfunggsi sebagai pelumas sendi.
Dapat dibedakan menjadi :
a) Sendi engsel
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan hanya satu arah saja.
Dijumpai pada hubungan tulang Os. Humerus dengan Os. Ulna dan Os. Radius/sendi
pada siku, hubungan antar Os. Femur dengan Os. Tibia dan Os. Fibula/sendi pada
lutut.
b) Sendi pelana/sendi sellaris
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan kedua arah.
Dijumpai pada hubungan antara Os. Carpal dengan Os. Metacarpal, sendi pada
tulang ibu jari.
c) Sendi putar
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan salah satu tulang berputar
terhadap tulang yang lain sebagai porosnya. Dijumpai pada hubungan antara Os.
Humerus dengan Os. Ulna dan Os. Radius, hubungan antar Os. Atlas dengan Os.
Cranium.
d) Sendi peluru/endartrosis
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan ke segala
arah/gerakan bebas. Dijumpai pada hubungan Os. Scapula dengan Os. Humerus,
hubungan antara Os. Femur dengan Os. Pelvis virilis.
e) Sendi geser
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan pada satu
bidang saja atau gerakan bergeser. Dijumpai pada ruas-ruas Os. Vertebrae,
ruas-ruas Os. Metatarsal dan ruas-ruas Os. Metacarpal.
f) Sendi luncur
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan badan melengkung ke
depan (membungkuk) dan ke belakang serta gerakan memutar (menggeliat).
g) Sendi gulung
Yaitu hubungan antar tulang yang gerakan tulangnya seolah-olah mengitari
tulang yang lain. Dijumpai pada hubungan Os. Metacarpal dengan Os. Radius.
h) Sendi ovoid
Yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan berporos dua, dengan
gerak ke kiri dan ke kanan; gerakan maju dan mundur; gerakan muka/depan dan
belakang. Ujung tulang yang satu berbentuk ovaldanmasuk ke dalam suatu
lekuk yang berbentuk elips. Dijumpai pada hubungan Os. Radius dengan Os.
Carpal.
Alat Gerak Aktif/Otot
Berdasarkan struktur selnya dibedakan menjadi :
- Otot Polos/Licin
- Memiliki bentuk sel otot seperti silibdris/gelendong dengan kedua
ujung meruncing.
- Memiliki satu buah inti sel yang terletak di tengah sel otot.
- Mempunyai permukaan sel otot yang polos dan halus/licin.
- Pergerakan sel otot ini diluar kehendak/tanpa disadari dengan sifat
pergerakan lambat dan teratur. Sehingga dengan demikian tidak memungkinkan
cepat lelah pada sel otot.
- Sel otot ini banyak dijumpai di seluruh organ dalam tubuh keculai
jantung dan rangka.
- Otot Lurik/Seran Lintang/Rangka
1) Memiliki bentuk sel yang panjang seperti
serabut/benang/filament.
2) Memiliki banyak inti sel yang terletak di
tepi.
3) Memiliki permukaan yang tampak
bergaris-garis gelap dan terang yanag melintang pada struktur selnya. Hal ini
dikarenakan adanya myofibril yang tidak seragam/tidak sama tebalnya pad
permukaan sel otot.
4) Pergerakan sel otot ini sesuai dengan
kehendak/diperintah oleh otak. Sehingga sifat pergerakannya cepat dan tidak
teratur serta mudah lelah.
5) Sel otot ini hanya dijumpai di rangka,
karena melekat di tulang untuk pergerakan.
- Otot Jantung/myocardium
- Memiliki bentuksel yang memanjang seperti serabut/filament yang
bercabang. Percabangan sel otot jantung disebut dengan Sinsitium.
- Memilki banyak inti sel yang terletak di tepi agak ke tengah.
- Pergerakan sel otot ini tanpa disadari/diluar kehendak.s ehingga sifat
pergerakannya adalah lamat, teratur dan tidak mudah lelah.
- Sel otot ini hanya dijumpai pada organ jantung.
Berdasarkan cara kerjanya dibedakan menjadi :
1) Otot sinergis
Yaitu hubungan antar otot yang cara kerjanya saling mendukung/bekerja sama/menimbulkan
gerakan yang searah.
© Seluruh otot pronator yang mengatur
pergerakan telapak tangan untuk menelungkup.
© Seluruh otot supinator yang mengatur
pergerakan telapak tangan m enengadah.
2) Otot antagonis
Yaitu hubungan antar otot sayng cara kerjanya saling berlawanan/bertolak
belakang/tidak searah.
Macamynya :
- Otot ekstensor (meluruskan) dengan fleksor (membengkokkan).
- Otot abductor (menjauhi sumbu badan) dengan adductor (mendekatisumbu
badan).
- Otot supinator (menengadah) dengan pronator (menelungkup).
- Otot depressor (gerakan ke bawah) dengan elevator (gerakan ke atas).
Berdasarkan perlekatannya dibedakan menjadi :
1 OrigoYaitu bagian ujung
otot yang melekat pada tulang dengan pergerakan yang tetap/stabil pada saat
kontraksi.
2 InsersioYaitu bagian ujung
otot yang melekat pada tulang dengan pergerakan yang berubah posisi pada saat
kontraksi.
Penyebab kelaian oleh :
- Genetis
- Kuman penyakit.
- Kelainan susunan tulang dan sendi.
- Kebiasaan sikap duduk yang salah.
- Kebiasaan aktivitas kerja yang berlebihan.
- Kurang gizi.
- Kecelakaan.
Macam kelainan pada sistem gerak
v Fraktura /patah tulang
Yaitu kelainan pada tulang akibat kecelakaan, baik kendaraan bermotor atau
jatuh. Dibedakan menjadi 2 yaitu fraktura yang tertutup (patah tulang yang
tidak sampai merobek kulit/otot) dan fraktura yang terbuka (patah tulang
yang merobek/menembus kulit/otot).
v Osteoporosis Yaitu kelainan pada tulang yang disebakan
karena adanya pengeropososan tulang. Hal ini karena tubuh sudah tidak mampu
lagi menyerap dan menggunakan Calcium secara normal.
v Fisura/retak tulang Yaitu kelainan tulang yang
menimbulkan keretakan pada tulang, akibat kecelakaaan.
v Lordosis Yaitu kelainan tulang karena sikap duduk sehingga
tulang belakang melekung pada daerah lumbalis. Ha ini akan mengakibatkan
posisi kepala tertarik ke belakang.
v SkolisosisYaitu kelainan tulang karena sikap duduk sehingga
tulang belakang melekung ke araah lateral. Hal ini akan menyebabkan badan
akan bengkok membentuk huruf S.
v KifosisYaitu kelainan tulang karena sikap duduk sehingga
tulang belakang yanag terlalu membengkok ke belakang.
v HipertrofiYaitu kelainan otot yang membesar dan menjadi
lebih kuat karena sel otot diberikan kegiatan/aktivitas yang terus menerus
secara berlebihan.
v Atrofi Yaitu kelainan otot yang mengecil, lemah, fungsi otot
yang menurun. Hal ini disebabkan adanya penyakit polimielitis yang dapat
merusakkan sel saraf pada otot.
v Stiff/kaku leherYaitu kelainan otot karena adanya peradangan
otot trapesius leher akibat gerakan yang menghentak secara tiba-tiba/salah
gerak.
v TetanusYaitu kelainan otot yang disebabkan adanya infeksi
bakteri Clostridium tetani. Sehingga menyebabkan otot menjadi
kejang-kejang.
3.
Kelainan pada sistem Gerak
1.
Gangguan dan Kelainan Pada Tulang
Gangguan dan kelainan pada tulang dapat
disebabkan oleh beberapa hal,antara lain :
1) Kesalahan nutrisi,
jika kekurangan vitamin D pada anak-anak akanmengakibatkan pertumbuhan tulang
terganggu sehingga kaki dapatmembengkok (kaki O dan kaki X)
2) angguan karena infeksi,
misalnya kuman sifilis, gonorhoe dan TBC dapat merusak sendi-sendi pada lutut
dan pangkal paha, gangguan tersebutantara lain:
-
Atritis eksudatif : peradangan
pada sendi yang menyebabkan senditerinfeksi dan bernanah
-
Atritis sika: peradangan pada sendi hingga cairan sendi menjadi
keringkarena kehilangan minyak sendi (sinovial)
-
Nekrosis:kerusakan pada selaput tulang (periosteum) hingga bagiantulang
mati dan mengering.
-
Layu sendi: keadaan tidak bertenaga pada persendian akibat rusaknyacakra
epifisis tulang rongga gerak.
3) Kesalahan sikap
duduk dalam jangka waktu yang lama, dapat mengakibatkan:
-
Skoliosis: kondisi dimana tulang belakang bagian punggungmembengkok kekiri
atau ke kanan. Penyebabnya adalah posisi duduk yang salah.
-
Lordosis: kondisi dimana tulang belakang bagian punggungmembengkok ke
depan. Ini terjadi bila kita sering duduk membengkok ke depan.
-
Kifosis: merupakan kondisi yang berkebalikan dengan kondisi lordosis,dimana
tulang belakang bagian punggung membengkok ke belakang.
4) Gangguan
mekanik, terjadi karena jatuh atau terkena benda keras, dapatberakibat:
-
Memar sendi: selaput sendi sobek.
-
Urai sendi: lepasnya tulang persendian.
-
Fraktura (patah tulang): umumnya terjadi pada tulang pipa.
-
Fisura (retak tulang), dapat diperbaiki oleh periosteum denganmembentuk
kalus.
2.
Gangguan dan
Kelainan Otot
-
Atropi: suatu kondisi dimana otot mereduksi atau mengecil sehinggatidak
kuat untuk melakukan gerakan.
-
Hipertropi: suatu kondisi dimana otot membesar. Hal ini disebabkanaktivitas
otot yang berlebihan (misalnya bekerja atau olah raga)
-
Hernia abdominal: apabila dinding otot abdominal (bagian perut) sobek pada bagian yang lemah. Akibatnya usus menjadi
melorot ke bawahmasuk kedalam rongga perut.
-
Kelelahan otot: terjadi karena otot terus menerus melakukan aktivitasdan
pada puncaknya terjadi kram atau kekejangan
-
Stiff: terjadi karena peradangan otot trapesius leher akibat
kesalahangerak, sehingga leher menjadi sakit dan terasa kaku jika diherakkan
-
Tetanus: merupakan penyakit yang menyebabkan otot menjadi kejangkarena toksin
bakteri tetanus (Clostridium tetani) yang masuk ke dalamluka.
-
Distrofiotot: merupakan penyakit kronis pada otot sejak anak-anak,diduga
merupakan penyakit genetis (bawaan)
-
Miestenia gravis adalah melemahnya otot secara berangsur-angsursehingga
menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian.
4. Gangguan pada
sistem Gerak
Contoh kelainan yang terjadi pada sistem gerak :
·
Rickets
Rickets merupakan satu kelainan pada tulang yang terjadi karena kekurangan
zat kapur, fosfor dan vitamin D. Kelainan ini dapat terlihat dari kaki yang
berbentuk huruf o dan huruf x.
·
Osteoporosis
Suatu keadaan dimana penghancuran tulang lebih cepat
dari pada proses pembentukan tulang. Akibatnya tulang menjadi keropos. Penyebabnya yaitu karena kekurangan kalsium.
Penyakit ini mudah terjadi pada orang yang lanjut usia.
·
Patah
Tulang (Fraktura)
Retak atau patah tulang dapat terjadi karena benturan
atau tekanan yang terlalu keras. Sebagai
organ yang hidup, tulang mempunyai kemampuan membentuk jaringan
baru untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Akan tetapi jika
persambungan tulang yang patah tersebut tidak baik maka bentuknya menjadi
tidak sempurna dan terlihat cacat.
·
Arthritis
Arthritis merupakan peradangan yang terjadi pada
sendi.Dapat terjadi karena banyak mengangkat atau membawa beban terlalu berat,
ataupun infeksi mikroorganisme.
·
Lepas
Sendi
Sendi lepas dapat dari tempatnya sehingga ligamen putus/sobek. Hal ini dapat terjadi
karena kecelakaan ataupun ketika melakukan olahraga berat.
·
Kebiasaan
Posisi Duduk
Contoh kelainan akibat kebiasaan duduk yang
salah adalah skoliosis, kifosis, dan lordosis. Skoliosis adalah kelainan
pada tulang belakang melengkung ke samping
sehingga tubuh ikut melengkung kesamping. Kifosis adalah kelainan
pada tulang belakang melengkung ke belakang, sehingga tubuh bungkuk. Lordosis
merupakan kelainan pada tulang belakang bagian perut melengkung ke
depan sehingga bagian perut maju.
Langganan:
Postingan (Atom)